Mengunjungi Kuta dan Sanur Tanpa Uang, Bisakah?

kuta

Juli 2017 kemarin, dengan status sebagai pengangguran kembali mengunjungi Bali. Walaupun sudah sering pulang ke Bali, kali ini menjadi lebih spesial karena tidak ada deadline untuk kembali bekerja atau kuliah yang terus mengejar seperti biasanya. Jadwalpun jadi terasa longgar, walaupun harga tiket bisa bikin perut longgar karena akhir bulan hanya makan kerupuk.

Dengan kelonggaran jadwal ini, saya mencoba mengarungi beberapa objek wisata mainstream diseputaran kota Denpasar. Bermodal motor matic yang sudah jadi andalan selama 8 tahun, dan dompet tebal berisi bukti pembayaran mini market serta 1 lembar 50 ribuan. Kami meluncur menuju Kuta dan Sanur.

Kali ini saya ditemani oleh Nikson, pemuda asli pulau Timor yang katanya ini kedua kalinya dia menginjakkan kaki di Bali (Yang pertama saat transit pesawat di Denpasar). Dua orang yang tidak tau apa-apa (yang satu ke Kuta terakhir kali saat masih SD, dan yang satu lagi baru tau kata Kuta tadi) akhirnya berangkat menyusuri jalanan kota Denpasar menuju Kuta.

Kuta

kuta
Susana pantai Kuta di sore hari

Bermodal memori tempo dulu, google maps, serta beberapa kali balik arah karena salah jalan. Akhirnya kami tiba diperhentian pertama kami, pantai Kuta yang namanya sudah tersohor diseluruh dunia. Walaupun sempat tinggal di Denpasar, Kuta dan sekitarnya bukan menjadi pilihan utama untuk dikunjungi menurut saya. Kemacetan yang diatas rata-rata dibanding daerah lain serta harga barang-barang yang terlalu harga bule, membuat saya tidak pernah mengunjungi daerah ini (coba bisa bayar pakai bukti pembayaran mini market, pasti saya sering kesini).

kuta
Menikmati sore, sambil memandang matahari tenggelam (namun mendung)

Pantai Kuta memang terkenal dengan garis pantainya yang cukup panjang disertai dengan pasir putihnya. Bila anda menyusuri pantai ini, maka ujungnya adalah pantai Legian. Biasanya tempat ini selalu ramai dikunjungi pada sore hari untuk menikmati Sunset.

kuta
Bila menemukan gapura ini, maka anda telah tiba di pantai Kuta

Garis pantai yang panjang disertai pemadangan matahari tenggelam, akan jadi perpaduan ciamik untuk menghabiskan waktu disore hari. Apalagi sambil menikmati buah kelapa segar disore hari itulah yang terbayang-bayang dalam benak kami. Namun Sayang, tiba disini hanya cuaca mendung yang didapatkan tapi setidaknya pantai ini tidak terlalu crowded seperti biasanya, jadi masih bisa menikmati suasana pantai.

kuta
Banyak toko yang menjual barang branded di jalan Legian Kaja

Karena hanya jalan-jalan santai saja, sambil beberapa kali duduk sambil memandangi aktivitas wisatawan lain dipantai tersebut. Sekitar satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk menelusuri jalan legian kaja dan juga jalan pantai kuta.

kuta
Banyak sekali bar yang menawarkan minuman dijalan ini

Memang paling pas, menikmati suasana kuta malam hari adalah dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan terutama pada jalan legian kaja, anda akan menemukan berbagai macam bar, restaurant, dan bahkan club malam dijalan ini. Bila punya kocek berlebih, daerah ini sangat cocok untuk menghabiskan malam hari anda, tapi ingat harga bisa 2 kali lipat dari biasanya dikisaran 50.000 – 200.000 rupiah per porsi.

kuta
Monumen 12 oktober, untuk mengingat kejadian bom Bali I

Selain restaurant serta bar, dijalan legian kaja ini anda bahkan menemukan monumen bom Bali I, dimana selain pengingat atas kejadian tersebut, monumen ini juga terdapat list dari 200 lebih nama korban bom Bali I. Didekat monumen ini terdapat juga wahana slingshot bernama 5GX, dimana anda akan duduk disebuat kursi, lalu dilontarkan keudara seperti katapel. Bila biasanya anda yang membidik batu menggunakan katapel, kali ini andalah yang menjadi batunya.

kuta
Kondisi pada malam hari, ada wahana slingshot

Sampai diujung jalan Legian Kaja, anda tinggal berbelok kembali kearah pantai. Disekitaran jalan ini, anda akan menemukan mall yang cukup keren buat saya yang orang kampung ini, mall bernama beach walk ini berlokasi persis menghadap kearah pantai Kuta. Karena saya kebetulan hanya membawa 1 lembar 50 ribuan, maka nama mall ini sangat cocok dengan kondisi saat itu, Beach Walk (yes I only walk, not buy anything, so I walk on the beach side not in the mall).

kuta
Salah satu restaurant yang dapat disinggahi saat lapar

Akhirnya seluruh jalan beres kami susuri dengan memakan waktu selama 2 jam. Karena perut kami mulai keroncongan. Awalnya kami berencana ingin mencicipi restaurant-restaurant khas barat sambil menikmati hembusan angin pantai kuta, namun karena harga yang terlalu kebarat-baratan dan takut dompet kami bertobat akan pergi kebarat mengambil kitab suci saking terkurasnya isi dompet ini. Kami memutuskan mencoba mencari penganan lokal khas bali disekitar area tersebut dengan harga bersahabat.

Dan akhirnya kami memutuskan menyantap masakan padang, itupun tidak berada didaerah Kuta.

Hemat pangkal kaya bro. (Lain kali kalo liburan sebaiknya udah punya niat buat menghabiskan jumlah uang tertentu, biar nggak terlalu pelit kaya saya kali ini)

Sanur

sanur
Pemandangan pantai Sanur saat air surut

Keesokan harinya, pantai Sanur menjadi tujuan kami selanjutnya. Alasan memilih sanur sangat simpel karena dekat dengan rumah, tinggal lurus menyusuri bypass maka akan tiba di pantai tersebut.

sanur
Hotel Inna Bali Beach berdiri gagah

Sore hari menjadi waktu yang kami putuskan untuk mengunjungi sanur, karena bisa melihat sunset. Tapi memasang saat mengunjungi suatu tempat anda harus browsing terlebih dahulu, sebab setelah sampai disana buka sunset yang kami dapatkan tetapi sunlight.

sanur
Kapal yang tidak melaut, karena air surut

Karena posisinya, pantai sanur lebih terkenal dengan matahari terbitnya, pantai tetangganya saja namanya pantai matahari terbit. Bila dilihat dipeta, posisi pantai sanur juga menghadap ke arah timur. Jadi jangan stereotypekan semua pantai bisa melihat sunset.

sanur
Jangkar siap kapten, tapi tidak ada air

Selain matahari terbit, dipantai ini terkenal dengan penyewaan kanonya, jadi bisa bermain air sambil mencoba menggunakan kano. Selain itu, pantai ini juga menjadi titik untuk pergi ke pulau nusa lembongan, sehingga terdapat beberapa stand yang menyediakan jasa pengantaran menuju pulau tersebut.

sanur
Apakah saat kekeringan melanda, pemandangannya seperti ini

Saat kami tiba, ternyata airnya sedang surut, sehingga aktivitas disekitar pantai tidak terlalu ramai, mungkin hanya segerombolan kecil yang menikmati bermain air sisanya hanya duduk-duduk di pinggir pantai.

sanur
Mr. Patrick Star is that you?

Kamipun iseng mencoba menyusuri karang-karang yang muncul karena air yang sedang surut. Beberapa kali kami melihat biota laut seperti landak laut, ikan dan bintang laut. Nikson pun sempat menginjak landak laut yang bersembunyi disela-sela batu karang. Dasar pemuda Timor memang tangguh-tangguh, landak laut yang terkenal beracun dan cara menghilangkan racunnya adalah dengan mengencingi bagian yang tertusuk (saya mengetahui cara ini setelah menonton satu episode Bolang). Diapun mengatakan tidak ada efek apa-apa hanya perih sedikit, sayapun menduga-duga apakah mungkin landak lautnya sudah tidak beracun atau kaki nikson yang memberikan racun kelandak laut tersebut, mungkin hanya waktu yang tau.

Matahari Tenggelam di pantai sanur

Namun pada akhirnya, kamipun dapat melihat sunset yang dinanti-nanti, walaupun itu hanya bisa terlihat dibalik gedung Hotel Inna Bali Beach, salah satu gedung tertinggi di Bali. Oh Ia bila anda bingung kenapa jarang ada gedung tinggi di Bali mungkin itu karena adanya perda bahwa gedung tidak boleh dibangun melebihi tinggi Pohon kelapa. Sedangkan mengapa hotel Inna Bali Beach bisa setinggi itu? Jawabannya mudah, karena Hotel tersebut sudah selesai dibangun sebelum perda itu muncul (well played Inna Bali Beach).

sanur
Salah satu biota laut yang muncul saat air surut

Akhirnya saat matahari mulai menghilang, dan cahaya bulan mulai bersinar terang. Kami berencana kembali menuju rumah. Seperti biasa, Lampu-lampu cafe yang berwarna kuning mulai menyinari sekitaran pantai sanur, menumbuhkan kesan santai sambil melihat kearah pantai yang gelap.

sanur
Senja di Pantai Sanur

Suasana ini mengingatkan saya bahwa sekarang waktu yang tepat untuk pulang, karena tidak ada uang.

(Visited 38 times, 1 visits today)

Leave a Reply