Renewable Energy Solusi menghadapi Climate Change

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat menyaksikan acara di National Geographic berjudul “Explorer: Bill Nye’s Global Meltdown”. Acara ini bercerita tentang kegelisahan Bill Nye atau yang biasa dikenal dengan “Science Guy” akan masa depan umat manusia yang sedang menghadapi dampak dari climate change. Menariknya terdapat satu segment wawancara antara anggota legislatif daerah florida yang menolak mentah-mentah bahwa climate change ini adalah ulah dari perbuatan manusia. Dia menganggap peristiwa yang terjadi saat ini hanya sebuah siklus fenomena alam yang biasa terjadi dalam rentang waktu tertentu. Selain wawancara tadi, terdapat juga ulasan menarik mengenai seorang Professor dalam bidang Ecologist bernama Guy Mcpherson (Profil Guy Mcpherson) yang meramalkan manusia akan musnah pada tahun 2030 akibat climate change. Menurut dia, manusia akan musnah karena ketidakmampuan sumber daya alam yang ada dalam beradaptasi menghadapi climate change. Oleh karena itu, dia pun memutuskan membangun “End of days” bunker untuk menghadapi kemungkinan pada tahun 2030. Semengerikan itukah masa depan kita?

Dalam membahas climate change ini saya menggunakan data dari NASA (http://climate.nasa.gov) dan semoga semua data itu benar adanya. Jadi Menurut NASA, Climate Change ini terjadi karena kadar gas seperti CO2, N2O, CH4,  di Bumi yang sudah sangat tinggi akibat dari hasil pembakaran bahan bakar fosil. Berdasarkan data dalam 150 tahun terakhir manusia telah meningkatkan level CO2  dari 280 parts permillion menjadi 400 parts permillion. Kadar gas yang tinggi ini mengakibatkan, terbentuknya “selimut” yang menyelubungi bumi. Nah, karena fungsi selimut itu adalah “menghangatkan” sehingga segala panas dari matahari yang masuk ke bumi sebagian terperangkap didalam bumi, efek ini disebut “efek rumah kaca”. Oleh karena hal tersebut, suhu bumi akhirnya bertambah panas.

climate1
Data Level Karbon Dioksida terhadap Tahun

Bila kita menilik kembali kata-kata dari legislator florida bahwa climate change adalah sebuah siklus yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Apa yang ia katakan ada benarnya namun, dia melupakan fakta bahwa siklus-siklus yang terjadi sebelumnya terjadi masih dalam batas wajar dikarenakan belum adanya kemajuan teknologi dari manusia. Dengan Kemajuan teknologinya, umat manusia berhasil mencapai rekor kandungan CO2 yang belum pernah dicapai pada siklus-siklus sebelumnya (dapat dilihat pada grafik diatas). Hal ini dipertegas dengan berbagai efek seperti meningkatnya tinggi permukaan laut, suhu global yang semakin panas dan mencairnya es di kutub.

Bukti dampak dari Climate Change
Bukti dampak dari Climate Change

Fakta diatas dapat dikatakan cukup mengerikan. Namun adakah cara, agar umat manusia dapat meredam efek buruk dari climate change? Salah satu yang sedang digalakan sekarang adalah meningkatkan penggunaan renewable energy diseluruh dunia dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Renewable energy dianggap oleh para ahli sebagai solusi untuk memecahkan masalah climate change. Hal ini dikarenakan penggunaan renewable energy atau energi terbarukan tidak sama dengan penggunaan bahan bakar fosil sebab renewable energy bebas dari gas buangan dan ramah lingkungan. Selain itu penggunaan energi terbarukan,juga didukung oleh hampir sebagian besar negara di Dunia karena sumber dayanya murah dan dapat ditemukan hampir di semua negara.

Untuk saat ini, Renewable energy sedang mengalami perkembangan yang cukup progresif diseluruh Dunia. Negara seperti china misalnya, menargetkan pada tahun 2030 sekitar 20% konsumsi energi china akan disuplai oleh energi terbarukan. Selain itu negara seperti India juga menargetkan membangun 175 Gigawatt pembangkit yang bersumber pada energi terbarukan pada tahun 2022. Negara lain yang juga sangat progresif dalam mengembangkan energi terbarukan adalah kosta rika, yang hampir 98% konsumsi energinya disuplai oleh energi terbarukan seperti angin, matahari dan air.  Bahkan negara yang terletak di Amerika Tengah ini menargetkan pada tahun 2025, 100% segala kebutuhan energinya akan disuplai oleh energi terbarukan. Dengan perkembangan renewable energy yang cukup signifikan diberbagai penjuru dunia, menjadi angin segar untuk masa depan manusia.

Namun perkembangan renewable energy saja tidak serta merta dapat membantu menghilangkan dampak buruk dari climate change. Sebab selain pembangkit listrik berbahan bakar fosil terdapat juga kendaraan berbahan bakar fosil yang ikut menyumbang CO2  dan memperburuk climate change. Solusi dari masalah ini adalah dengan beralih menggunakan kendaraan berbasis listrik. Tetapi masih kurang praktisnya kendaraan listrik bila dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil dalam hal pengisisan bahan bakar membuat masyarakat enggan berpindah ke kendaraan listrik. Selain itu, karena kebutuhan energi yang meningkat setiap tahunnya akibat dari pertumbuhan populasi membuat banyak pemerintah yang tergoda untuk membangun pembangkit listrik bertenaga uap. Alasannya simpel, karena PLTU lebih murah dan juga kapasitas yang dihasilkan lebih besar bila dibandingkan dengan energi terbarukan. Hal-hal inilah yang menjadi tantangan energi terbarukan agar dapat berkembang dan mencegah efek buruk dari climate change kedepannya.

Seperti yang dikatakan oleh Bill Nye pada acaranya “Kita dapat menghentikan dampak buruk dari climate change, hal ini dapat dilakukan bila kita berubah dari sekarang”

(Visited 138 times, 1 visits today)

5 thoughts on “Renewable Energy Solusi menghadapi Climate Change

Leave a Reply