Resensi Buku: Rich Dad Poor Dad by Robert Kiyosaki

Richdad

Baca resensi sebelumnya: Elon Musk Tesla, Space X and the Quest for Fantastic Future by Ashlee Vance

Akhirnya kembali berhasil menyelesaikan satu buah buku yang sudah saya beli sekitar 2 tahun lalu. Bukan karena kesibukan tetapi lebih kearah malas untuk membaca bacotan dari Robert Kiyosaki mengenai passive income atau jargon andalan dia “let’s money do the work”. Begitulah pikir saya ketika masih berkuliah dulu, lebih enak bekerja pada perusahaan yang menawarkan gaji tinggi dimana keamanan masa depan kita akan selalu terjamin oleh perusahaan tersebut.

Namun setelah sempat magang selama hampir setahun dan entah kenapa mulai merasakan beberapa paragraf dari buku tersebut mulai menjadi kenyataan. Salah satu contohnya adalah keterikatan berlebih terhadap uang yang membuat tujuan bekerja yang awalnya mencari pengalaman berubah dan lebih berorientasi kepada gaji. Walaupun terkadang gaji tinggi sering menjadi prioritas bagi mayoritas orang, namun dengan gaji yang besar seringkali dibarengi dengan konsumsi yang ikut meningkat. Hal ini membuat berapapun gaji yang ditawarkan seakan terasa tidak cukup, karena dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan yang tinggi.

Oleh karena itu, saya mencoba membaca kembali buku rich dad poor dad, yang menekankan pentingnya pendidikan keuangan atau financial literacy semenjak dini, agar tidak terjebak pada rat race atau lingkaran setan dalam memburu uang.

Secara umum, buku yang dikarang oleh Robert Kiyosaki lebih menceritakan mengenai pentingnya membangun aset daripada memperbesar pengeluaran. Membangun aset yang dimaksudkan disini adalah pembaca diminta untuk berani berinvestasi agar dapat menghasilkan passive income dari investasi tersebut. Dari sinilah kalimat “let money work for you” muncul.

Untuk anda yang membeli buku ini dan berharap mendapatkan ilmu investasi demi menghasilkan passive Income ala Robert Kiyosaki mungkin akan sedikit kecewa. Setelah membaca secara menyeluruh isi buku ini, dapat saya simpulkan bahwa buku ini lebih mengarahkan pembaca untuk dapat membangun kesadaran betapa pentingnya pendidikan keuangan serta membangun aset sejak dini agar dapat mencapai financial freedom, sayangnya contoh-contoh investasi yang baik untuk diambil demi dapat membangun aset tidak terlalu banyak dijelaskan padahal itulah yang dicari oleh para pembaca.

Namun bila anda membeli buku ini untuk menambah wawasan tentang pentingnya membangun aset maka buku ini akan sangat cocok untuk anda. Kesembilan bab dari buku ini, dibawakan dengan cukup menarik dan mudah untuk dicerna, dimana setiap babnya Robert Kiyosaki menceritakan tentang masa lalunya saat ia belajar tentang financial literacy dari rich dad dan bagaimana Robert berusaha untuk tidak terjebak didalam rat race karena ajaran dari poor dad.

Yang membuat cerita masa lalu ini lebih menarik adalah, tokoh Rich Dad dan Poor Dad itu sendiri. Poor Dad adalah ayah kandung dari Robert yang memiliki pendidikan tinggi tetapi sering mengalami kesulitan finansial, sedangkan Rich Dad adalah ayah dari teman Robert bernama Mike, yang memiliki beberapa bisnis dibidang retail dan bersedia menjadi mentor dari Robert serta Mike untuk memahami arti dari uang.

Setiap bab dari buku ini menjelaskan secara bertahap mengapa dengan membangun aset, dapat membuat seseorang lebih kaya. Seperti pada bab 1 diceritakan bagaimana Rich Dad mengajari Robert dan Mike untuk tidak pernah bekerja demi mencari uang, sehingga dapat terhindar dari keinginan terhadap uang secara berlebihan. Kemudian dilanjutkan pada bab 2 dijelaskan mengenai perbedaan dari asset dan liability yang dapat membuat seseorang menjadi lebih kaya atau malah semakin miskin.

Lalu pada bab 3,4 dan 5 secara berturut-turut menceritakan pentingnya menciptakan bisnis sendiri untuk mengembangkan passive income. Selain itu terdapat ulasan yang menarik mengenai perbedaan bisnis dan pekerjaan, serta penjelasan kenyataan sebenarnya dari pajak dan bagaimana orang-orang kaya berhasil mengakali sistem yang ada agar tetap bertambah kaya.

Pembahasan yang menarik menurut saya terjadi pada bab 6, dimana Robert Kiyosaki menekankan bahwa bekerja adalah kesempatan untuk menambah ilmu bukan mencari uang. Dalam buku ini Robert tidak pernah menyarankan kita untuk keluar dari pekerjaan untuk menjalankan bisnis, karena menurut dia kedua hal ini bisa dijalankan berbarengan dan malah menyarankan agar pembaca tidak terlalu berfokus untuk menekuni 1 buah bidang pekerjaan, sebab itu akan membelenggu kreativitas dalam mengembangkan bisnis.

Terakhir pada bab 7,dan 8, dibahas bagaimana menghadapi rintangan dalam mencapai kebebasan finansial yang didengung-dengungkan oleh buku ini seperti cara mengatasi kemalasan dan pesimisme dalam diri. Selain itu diberikan tips-tips langkah awal yang harus kita ambil untuk mengembangkan aset yang kita punya. Walaupun terlihat didalam bab ini tips-tips yang diberikan terlihat terlalu filosofis dan bukan dalam bentuk implementasi. Pada bab 9 diberikan tips tambahan yang lebih praktikal namun hanya dijelaskan dalam beberapa halaman saja.

Walaupun terdapat beberapa bagian dari buku ini yang terlihat anti pendidikan tinggi dan selalu menjelek-jelekkan sistem pendidikan yang ada karena tidak mengadakan pelajaran mengenai sistem finansial, namun buku yang menjadi best seller dan telah terjual sebanyak 26 juta kopi diseluruh dunia tetap layak untuk dibaca.

Secara keseluruhan buku ini baik untuk anda yang sedang memulai merintis karir, agar tidak terlalu terlena dengan gaji yang ditawarkan saat ini, dan selalu waspada akan perubahan-perubahan yang terjadi dimasa depan. Buku ini seperti menyadarkan kita untuk selalu melatih otak ini agar tetap jeli melihat peluang-peluang bisnis yang ada disekitar demi menambah pendapatan dari passive income dan tidak selalu berada dalam zona nyaman dari gaji yang didapatkan.

(Visited 777 times, 1 visits today)

Leave a Reply