Review 2017, dan post pertama di tahun 2018

2018

Post pertama di tahun 2018. Walaupun agak telat 2 minggu dari 1 januari setidaknya sempat ngepost satu tulisan untuk mereview apa saja yang sudah terjadi di tahun 2017. Dan untuk pertama kalinya berhasil menjaga konsistensi menulis blog ini selama satu tahun, walaupun janji awal mau menulis seminggu satu artikel, tapi ujung-ujungnya banyak bolong-bolongnya juga heheheh.

Bagi saya pribadi, salah satu keuntungan menulis blog adalah incomenya yang besar (hehehe bercanda ini, belum ada incomenya kok). Blog ini buat saya kayak man cave (yang belum tau coba cari, ntar pasti pengen punya man cave) segala macam hal saya simpan disini, mulai dari project, catatan traveling hingga tips-tips sehingga sewaktu-waktu pas butuh atau pengen lihat, bisa cek-cek tulisannya nanti.

Sempat ada pikiran mau nyari income via blog, tapi udah satu tahun ngejalanin, jumlah pembaca nggak pernah tembus 100 per hari. Jadi mending blog ini dijadiin tempat simpan-simpan tulisan atau foto-foto aja deh jadinya, sama refleksi kuliah dan pengalaman hidup di negara orang hehehe.

Kembali ke topik, 2017 jadi tahun dimana gelar mahasiswa saya sudah raib, dan efek terbesarnya pada diri ini adalah tidak ada. Ya tidak ada yang berubah dalam hidup, tinggal masih ditempat yang sama pas kuliah, masih sering ke kampus, ketemu juga sama teman-teman kampus, paling yang berubah jumlah pemasukkan jadi nambah 1 lagi hehehe. Saya coba membagi review 2017 ini menjadi beberapa babak

Bekerja di Len

Harusnya pas awal tahun 2017 saya nulis review 2016, malah nulis tentang produk-produk CES 2017. Inget banget pas januari 2017, mungkin masa-masa paling semangat buat nulis artikel blog. Sampai rela diem di Starbucks sambil nyeruput kopi terus nulis artikel di laptop, walaupun ujung-ujungnya artikel sepi pembaca dan akhirnya bulan februari saya hentikan aktivitas tidak produktif tersebut.

Saya hentikan, karena pada bulan februari panggilan tugas dari tempat saya magang yaitu PT Len Industri mulai bergema di dalam lubuk hati ini (hehehe bercanda). Pada bulan februari kira-kira saya sudah bekerja di kantor tersebut kurang lebih selama 6 bulan, dan pada bulan-bulan sebelumnya kami bekerja mendesign Inverter. Dan sekarang waktunya semua hasil design itu dimplementasikan ke komponen nyata.

Dan apa yang terjadi, ketika hasil hitungan simulasi dikomputer diimplementasikan ke dunia nyata? Benar sekali banyak ledakan yang ditemui selama implementasi ini. Karena bekerja menggunakan sumber listrik bertegangan tinggi sehingga sedikit saja ada masalah atau short circuit misalnya, maka ada saja komponen yang meledak heheheh.

Setelah menguji alat itu dikantor hingga bulan maret, akhirnya kami meluncur menuju ke cipayung bogor untuk memasang inverter tersebut ke tempat client. Sekitar 2 atau 3 kali kami mengunjungi cipayung dengan durasi setiap kunjungan kurang lebih 2 minggu bahkan ada rekan yang sudah diam di cipayung selama sebulan untuk menginstall dan menguji alat ini. Pengalaman selama di cipayung jadi pengalaman seru dan paling berbeda, banyak hal baru, aneh dan melelahkan saya dapatkan disini. Salah satunya ular yang menghantui panel listrik hingga main PES dikontrakan bisa jadi hiburan paling menyenangkan setelah lelah bekerja seharian di site.

Namun pada tanggal 2 Juni 2017, saya harus mengundurkan diri dari kantor ini. Padahal Inverter yang didesign selama 10 bulan belum berhasil bekerja dengan lancar dan masih sering meleduk. Apakah saya lari dari tanggung jawab alias kabur karena pekerjaan yang terlalu sulit?

hehehe akan saya ceritakan pada section berikutnya

Masa-Masa Berburu S2

Selama bekerja di Len, selain menulis blog dan rapat bareng teman-teman ngebuat.com, ada momen dimana saya hetic buat nulis motivation lettter, minta rekomendasi letter dan bolak-balik kampus demi mendaftar S2. Entah kenapa sejak lulus dari bangku kuliah tahun 2016, semangat buat nyari S2 malah semakin besar. Bila diingat kembali alasan mencari S2 mulai mencuat ketika awal-awal 2016 dengan alasan ingin memperluas wawasan internasional akibat serunya ikut program exchange ke Kyoto University. Jepang dan Swedia jadi pilihan utama untuk melanjutkan S2 karena memberikan beasiswa ke pada mahasiswa kere kayak saya.

Akhirnya deadline-deadline untuk beasiswa mulai bermunculan dibulan-bulan februari 2017. Sebelumnya saya sudah mendapatkan pengumuman dari universitas di Jepang, dimana pada saat itu saya dinyatakan tidak mendapatkan beasiswa Monbukagakusho. Padahal seleksinya lumayan susah, apalagi bagian mencari professor di Jepang yang bikin pusing tujuh keliling. Saya sampai-sampai harus mengkontak 10 professor di Jepang dan yang merespon dengan positif hanya 1 orang. Kemudian harus membuat rencana research, dimana untuk menemukannya harus baca-baca paper dan merumuskan hal yang dapat diteliti nantinya di Jepang. Padahal Jepang jadi pilihan utama saya.

Akhirnya karena gagal dengan Jepang, saya memalingkan perhatian ke beasiswa Korean Government Scholarship Program (KGSP), karena beasiswa ini deadlinenya sangat mempet, saya sampai tidak tidur dalam mempersiapkan dokumen ini. Hal yang paling sulit dari beasiswa ini adalah, semua dokumen yang di fotocopy haruslah di legalisir atau disahkan oleh notaris. Inilah alasan saya bisa punya artikel mengenai cara legalisir passpor. Karena sangat mepet, pada pagi hari saat deadline, kami masih harus lari-lari mencari notaris yang buka paling pagi, gara-gara ini saya sampai tau harga notaris disepanjang jalan pasopati dan dago Bandung.

Namun beasiswa ini juga gagal lagi. Gagal ditahap dokumen pula. Memang sesuatu yang dilakukan dengan buru-buru hasilnya juga tidak terlalu menyenangkan. Padahal dalam menyiapkan dokumen-dokumen S2 ke Korea saya sempat-sempatkan menonton drama Korea, biar alam bawa sadar selalu terpatri tentang Korea dan jadi semangat menyiapkan dokumen-dokumen ini. Dengan metode ini bukannya lolos beasiswanya, malah addicted dengan variety show Korea hingga saat ini setelah di Swedia, bad method dude.

Akhirnya pada bulan februari 2017 saya menyiapkan dokumen untuk beasiswa Swedish Institute dan juga Innoenergy. Dalam menyiapkan dokumen-dokumen ini sering kali saya berdiskusi dan juga mengerjakan bareng pejuang-pejuang S2, mulai mengerjakan di cafe bareng jopri, budi dan Abri atau diskusi dokumen di kantor bareng Arif, Candra dan Sahil. Karena opini dan semangat rekan-rekan ini dalam mencari S2, membuat berhenti menjadi sungkan.

Akhirnya pengumuman untuk S2 di Swedia untuk Innoenergy dan Swedish Institute diumumkan pada bulan april, dan disitulah titik terang untuk melanjutkan S2 terjadi.

Masa Transisi

Karena kepastian negara tujuan S2 sudah didapatkan yaitu Swedia, mau tidak mau saya harus mengundurkan diri dari Len. Inilah alasan kenapa saya harus keluar dari Len dan terpaksa tidak bisa melanjutkan proyek ini. Dan selama masa transisi ini saya harus kembali kekampung halaman di Kupang pada bulan Juni 2017. Hal yang paling merepotkan adalah barang-barang kosan yang sudah berakumulasi selama 5 tahun terakhir ini amatlah banyak. Mulai dari buku, sepeda, hingga bor saya miliki dan terpaksa dijual karena kalo dikirim dengan paket akan sangatlah mahal.

Disaat ini juga saya sempat membeli kamera mirorless, dan menjadi alasan untuk bisa selalu travelling, biar nggak rugi udah beli kamera. Saya juga sempat tinggal beberapa minggu di Bali, dan mencoba mengeksplore kembali tempat-tempat yang belum saya kunjungi saat SMA disana. Pengalaman potong gigi saat di Bali juga cukup menarik. Dan juga saat mengunjungi fatumnasi bulan Juni.

Pada bulan Juli, saya mulai intensif mengambil kuliah android studio di Udacity dengan alasan biar nggak zonk karena mengambil jurusan Interactive Media Technology yang sangat berbeda dengan latar belakang S1 saya. Kadang skill android ada gunanya, namun pada ujung-ujungnya harus belajar hal baru juga.

Namun hal yang paling berat, selama masa transisi adalah pertemuan dan perpisahaan yang datang terlalu cepat. Harus berpisah dengan Bandung, kembali tinggal dengan orang tua(masa-masa paling mantap), namun harus pergi merantau lagi, melepas barang-barang kesayangan, dan masih banyak lagi.

Kembali ke Awal Lagi di Stockholm

Setiap memasuki jenjang baru, hal yang paling sulit adalah memulai semua itu dari awal. Dan kehidupan S2 saya kali ini bak memencet tombol restart game, semuanya kembali ke awal. Tiba di Stockholm tanggal 1 Agustus, dan langsung harus beradaptasi dengan transportasi, sistem pembayaran, peta, bahasa, dan teman-teman. Semuanya menjadi baru disini, Sempat gelagapan pas awal-awal namun ujung-ujungnya semua menjadi kembali normal.

Dimasa ini saya belajar banyak software baru seperti pada bulan September dan October saya belajar Unity untuk membuat game dan pada bulan November Desember punya kesempatan untuk belajar Blender dan menggunakan Nao Robot.

Selain itu bulan November jadi bulan paling crowded, karena pengalaman jadi panitia career fair di Armada dan berhasil membuat game pertama kali di bulan ini.

Namun yang paling berkesan dari tahun 2017 adalah tahun ini menjadi tahun terbanyak saya bisa mengunjungi negara berbeda selama hidup. Pada tahun 2016 saya berhasil mengunjungi Jepang dan pada tahun 2017 berhasil menaikkan jumlahnya menjadi 6 yaitu Swedia, Denmark, Finlandia, Estonia, Russia dan Spanyol. Semoga tahun 2018 bisa lebih banyak lagi dan bisa bekerja dengan project-project berbeda dan menghasilkan karya yang bagus.

Welcome 2018, Valkommen 2018

 

(Visited 18 times, 1 visits today)

Leave a Reply