Skip to content

Bagaimana Hidup di Luar Negeri Mengubah Pandangan Saya

Tidak terasa setelah 1.5 tahun hidup di negara orang, tiba saatnya untuk mulai melihat kebelakang apa saja yang telah berubah dari diri kita selama ini. Program master yang harus ditempuh selama 2 tahun mulai tersisa 6 bulan dan apakah kita sudah lebih baik dari diri kita yang dulu.

Hidup di Stockholm meyakinkan saya bahwa apapun bisa dilakukan, kemampuan manusia beradaptasi itu luar biasa.

Dari awalnya tidak bisa memasak jadi jago memasak. Dari biasanya hedon jadi berhemat. Dari biasanya naik motor kini naik kereta.

Melalui post kali ini, saya mencoba untuk melihat kembali adaptasi-adaptasi apa yang sudah berhasil saya lakukan untuk bisa bertahan hidup dinegara ini

1. Cashless

Saat masih di Indonesia, saya salah satu orang yang masih rajin menuju ke ATM untuk mentransfer tagihan online. Entah kenapa saya masih belum yakin dengan sistem online bahkan hingga lulus kuliah saya masih belum mengaktifkan layanan internet banking dan mobile banking. Hal ini diakibatkan masih belum nyaman dan trust issue dengan sistem online seperti ini. Saat tiba di Stockholm, lingkungan disini memaksa anda untuk percaya bahwa sistem online adalah yang terbaik dan lebih cepat. Dan terbukti, saya tidak perlu mengoleksi kepingan uang receh lagi disini dibanding di Indonesia yang bisa berbotol-botol banyaknya

2. Passion

Saya mengambil langkah berani untuk menepuh program master yang berbeda dengan program S1 saya. Namun, saya lebih menikmati mengerjakan tugas-tugas kuliah program master ketimbang saat S1 dulu. Saat S1 dulu saya sangat sering mengikuti lomba demi mempercantik CV dan ujung-ujungnya malah tidak fokus ke satu tujuan. Kini saya malah bersemangat mengerjakan tugas-tugas kuliah sebab saya tau, tugas kuliah disini bisa menjadi portofolio dan bekal untuk lulus nanti. Sehingga kuliah dibidang yang anda sukai membuat anda menjadi lebih fokus.

3. Jalan-Jalan

Saya merasa volume jalan-jalan yang saya lakukan selama disini menjadi lebih bertambah. Selain rasa penasaran untuk melihat negara lain yang jaraknya relatif dekat. Namun juga rasa takut, bila setelah lulus nanti bakal sulit untuk mengunjungi negara-negara Eropa lainnya. Kemampuan research dan mengatur jadwal pun terasah disini. Kemampuan untuk mencari lokasi bagus untuk foto dan pemandangan indah menjadi salah satu skill yang terasah. Dan mulai ada ketertarikan untuk sering menggambil gambar dari kamera karena sadar objek yang di foto selalu unik.

4. Berbicara

Berbicara, menulis, mendengar, dan membaca dalam bahasa Inggris jadi hal biasa saat ini. Saat pertama kali tiba disini, masih ada rasa canggung untuk berbicara karena takut salah dan bahasa inggris yang jelek. Namun setelah beradaptasi dan mengetahui bahwa kesulitan ini bukan hanya dirasakan oleh kita namun banyak teman-teman Internasional lain yang merasakan, lama kelamaan kita merasa nyaman dengan bahasa ini dan sudah tidak takut salah atau canggung menggunakan bahasa ini. Pada akhirnya, bahasa digunakan untuk menyampaikan pandangan kita kepada orang lain. Jadi karena ini pandangan kita, kita tidak perlu takut salah atau canggung.

5. Planning

Merencanakan terlebih dahulu sebelum eksekusi menjadi hal wajib agar dapat bertahan hidup disini. Mengecek weather cast untuk tahu suhu diluar agaar tahu apa yang bisa digunakan. Mengecek jadwal kereta agar tahu kapan harus berangkat. Mencatat rencana harian agar tidak ada jadwal yang tabrakan. Membook tempat cuci dari jauh-jauh hari agar tetap kebagian.

Mungkin segini dulu listnya dan bakal saya tambahkan kalo kepikiran lagi

(Visited 36 times, 1 visits today)

Be First to Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: